0%

https://ptdisabilunnajah.com/wp-content/uploads/2021/04/services-head-1.png

Definisi Tauhid, Pembagian, dan Keutamaannya

Definisi Tauhid, Pembagian, dan Keutamaannya

Definisi Tauhid

Tauhid secara bahasa berasal dari kata wahhada-yuwahhidusy sya’a, yaitu ketika menjadikan sesuatu satu atau esa. Contohnya: apabila Anda katakan, “Tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah selain Muhammad,” maka berarti Anda menjadikan hanya Muhammad saja yang keluar dari rumah. Demikian juga apabila Anda mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang boleh bangun dari majlis selain Khalid,” maka berarti Anda hanya mengizinkan Khalid saja yang bangun dari majlis.

Sedangkan secara syara’, tauhid adalah mengesakan Allah dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat.

Pembagian Tauhid

Tauhid terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Tauhid Rububiyyah,
  2. Tauhid Uluhiyyah, dan
  3. Tauhid Asma’ wa Shifat.

Berikut ini penjelasan masing-masingnya disertai dalilnya.

  1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah maksudnya mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam hal menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta. Bisa juga kita katakan, bahwa tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam tindakan-Nya. Contoh tindakan-Nya adalah menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan lain sebagainya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Terj. QS. Al A’raaf: 54)

وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi.” (Terj. QS. Ali Imran: 189)

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Meereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Terj. QS. Yunus: 31)

  1. Tauhid Uluhiyyah, disebut juga Tauhid ibadah

Tauhid Uluhiyyah maksudnya mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam hal perbuatan hamba. Contoh perbuatan hamba adalah shalat, puasa, haji, tawakkal, nadzar, rasa takut, berharap, cinta, dan sebagainya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (Terj. QS. Adz Dzaariyat: 56)

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً

“Dan sembahlah Allah; janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” (Terj. QS. An Nisaa’: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Terj. QS. Al Anbiyaa’: 25)

  1. Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid Asma’ wa Shifat maksudnya menyifati Allah mengikuti apa yang Allah dan Rasul-Nya sifatkan untuk Diri-Nya berupa sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan tanpa takyif (menanyakan bagaimana hakikatnya), tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya), tahrif (menakwil sifat Allah), dan ta’thil (meniadakan sifat Allah). Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy Syuuraa: 11)

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah Asmaa’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf: 180)

 

Beberapa Faedah Penting Tentang Tauhid

Pertama, tiga pembagian tauhid tesebut saling berkaitan; dimana masing-masingnya tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan salah satu tauhid itu dan tidak melakukan tauhid yang lainnya, maka ia belum bertauhid.

Kedua, hendaknya Anda mengetahui, bahwa orang-orang kafir yang diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui tauhid Rububiyyah. Mereka mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberikan manfaat dan menimpakan madharat, dan yang mengatur segala urusan. Namun pengakuan mereka ini tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31)

Ketiga, tauhid uluhiyyah adalah inti dakwah para rasul, karena ia merupakan pondasi yang dari sana dibangun semua amal. Jika tauhid tersebut tidak terwujud, maka semua amal tidak akan sah. Hal itu, karena jika tauhid uluhiyyah tidak ada, maka yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu syirk. Sedangkan perseteruan antara para rasul dengan umat mereka sebabnya adalah karena masalah tauhid ini. Oleh karena itu, tauhid ini wajib diperhatikan, dipelajari masalahnya secara mendalam, dan dipahami pokok-pokoknya.

Urgensi Tauhid dan Keutamaannya

  1. Tauhid adalah rukun Islam yang paling agung.

Tauhid adalah penopang Islam yang paling agung. Tidak mungkin bagi seseorang masuk ke dalam Islam kecuali apabila bersaksi terhadap tauhid; mengakui ibadah itu hanya ditujukan kepada Allah dan meniadakan peribadatan kepada selain-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ »

“Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Tauhid adalah perkara paling penting dan perkara yang paling wajib.

Tauhid didahulukan di atas semua amal dan perkara penting yang harus dikedepankan karena kedudukannya yang besar dan urgensinya yang agung.

Tauhid juga merupakan hal yang pertama kali didakwahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu saat Beliau mengutusnya ke Yaman,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ” – وَفِي رِوَايَةٍ: إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – ”

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi segolongan Ahli Kitab, maka hendaknya yang pertama kali engkau serukan adalah bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah –Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sampai mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Semua ibadah tidak akan diterima tanpa adanya tauhid

Oleh karena itu, tauhid adalah syarat sahnya ibadah dan asas untuk diterimanya. Dan suatu ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali disertai tauhid sebagaimana shalat tidaklah disebut sebagai shalat kecuali disertai thaharah (bersuci). Jika syirk masuk ke dalam ibadah itu, maka rusaklah ibadah itu; seperti halnya hadats ketika masuk ke dalam thaharah.

Bahkan suatu ibadah jika tidak ada tauhid, maka menjadi syirk yang merusak amal itu dan menghapusnya, serta menjadikan pelakunya kekal di neraka.

  1. Tauhid adalah sebab memperoleh keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Terj. QS. Al An’aam: 82)

Kata ‘zhulm’ tersebut maksudnya adalah syirk sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari (2/484) dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah orang-orang yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, mereka juga tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Mereka akan memperoleh keamanan pada hari Kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan tauhid secara sempurna, ia akan memperoleh keamanan dan petunjuk yang sempurna, serta akan masuk surga tanpa azab.”

Syirk juga adalah kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid adalah keadilan yang paling adil.

  1. Tauhid merupakan sebab masuk surga dan selamat dari neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ » .

“Barang  siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bersaksi pula bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh dari-Nya, demikian pula bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amal yang dikerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laailaahaillallah karena mencari keridhaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Tauhid adalah sebab selamatnya hamba dari penderitaan di dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tauhid adalah tempat berlindung bagi musuh-musuh-Nya dan bagi wali-wali-Nya.”

Adapun musuh-musuh Allah, maka dengan tauhid Dia menyelamatkan mereka dari penderitaan di dunia dan kesulitannya. Allah berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Terj. QS. Al ‘Ankabut: 65)

Sedangkan para wali-Nya, maka dengan Tauhid Dia menyelamatkan mereka dari penderitaan di dunia dan akhirat serta kesulitannya. Ini adalah Sunnatullah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Maka tidak ada yang dapat menghindarkan penderitaan dunia seperti halnya tauhid. Oleh karenanya, doa ketika menderita adalah tauhid, doa Dzunnun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) -dimana tidaklah seorang yang menderita berdoa dengannya melainkan Allah akan menghilangkan deritanya- adalah tauhid.

Sebaliknya tidak ada yang membuat manusia jatuh ke dalam berbagai penderitaan yang besar kecuali syirk, dan tidak ada cara untuk menariknya kecuali dengan tauhid. Dengan demikian, tauhid adalah tempat perlindungan bagi semua makhluk, benteng, dan penyelamatnya.

  1. Tauhid adalah hikmah dari diciptakan manusia dan jin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzaariyat: 56)

Maksudnya agar mereka mentauhidkan-Ku.

Oleh karena itu, tidaklah rasul diutus, kitab diturunkan, syariat ditetapkan, dan manusia diciptakan kecuali agar Allah diesakan dan disembah; tidak selain-Nya.

Leave a Reply

Tulis apa yang ingin Anda cari